TAMU TERHORMAT

Kamis, 15 Januari 2009

Markas PBB di Gaza Dibom Israel


GAZA - Israel menembak apa saja yang. Pada Rabu kemarin kuburan dibombardir hingga tulang-tulang mayat berserakan, hari ini markas badan PBB untuk pengungsi juga ditembaki.



Seperti diberitakan CNN, kamis (15/1/2009), markas PBB di kota Gaza menjadi sasaran tembak pasukan Israel pada Kamis siang waktu setempat. Tidak ada laporan korban jiwa akibat pemboman itu.

Saksi mata mengatakan, akibat serangan itu, bangunan markas PBB terbakar dan api tidak bisa dimatikan karena tidak ada peralatan.

Press TV melaporkan, markas PBB itu merupakan satu dari tiga bangunan yang dibom Israel di dekat kota Gaza. Dalam serangan yang terjadi di kota Jebaliya sebelah timur Jalur Gaza, sebanyak lima anggota keluarga dilaporkan tewas.

Read More…

Tentara Zionis Bombardir Kantor PBB

Serangan tentara Israel bagai tak henti-hantinya menggantam wilayah Gaza-Palestina. Bahkan sebuah kantor perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Gaza City ikut diserang sehingga persediaan obat dan makanan di dalam bangunan ludes dilalap api. Tiga orang dilaporkan cedera dalam serangan ini.




Selain mempekejakan 100 relawan kemanusiaan, Kantor PBB ini menampung obat-obatan dan makanan bagi warga Gaza. Sebelum ini, Israel pernah melancarkan serangan ke sebuah sekolah milik PBB yang merenggut 40 warga sipil. Sekjen PBB Ban Ki Moon yang tengah berkunjung ke Israel dan Palestina mengecam keras serangan ini. Ban bahkan menuntut penyelidikan segera atas serangan itu.

Mesin-mesin perang Israel juga terus mengincar terus lokasi warga sipil. Sebuah masjid di selatan Gaza dihancurkan tentara Zionis. Di lain tempat, pertempuran Israel dan Hamas masih berlangsung sengit. Dalam baku tembak di Gaza, tentara Israel kewalahan menghadapi serangan pejuang Hamas. Militer Israel juga terus merangsek ke kawasan padat penduduk di pinggiran Gaza City.

Hingga hari ke-20 total korban jiwa akibat agresi Israel berjumlah 1100 orang lebih dan sekitar 4500 orang mengalami terluka. Meskipun korban tewas terus bertambah, PBB tetap tidak mampu menghentikan serangan membabi-buta pasukan Zionis. Sebaliknya serangan tentara Israel makin mengganas.

Read More…

Penggunaan ICT dalam Proses Pembelajaran di Sekolah


Dalam kehidupan kita sering dihadapkan pada dua ujung dikotomi yang dipertentangkan. Misalnya, manakah yang lebih dahulu? Ayam atau telur. Teori atau praktik. Konsep atau implementasinya. Rencana atau pelaksanaannya. Juga dikotomi antara anggaran dan programnya. Anggaran dahulu, baru disusun programnya. Tidak!! Program yang matang dahulu, baru harus disiapkan anggarannya.

Dikotomi ini juga berlaku ketika pemerintah telah memiliki duit yang besar untuk membeli komputer secara besar-besaran. Ada pihak yang kemudian menjadi sangat khawatir kalau komputer yang dibeli nanti akan menjadi barang rongsokan di sekolah. Namun ada pihak lain yang berpendapat bahwa kita harus memiliki program atau konsep yang matang dahulu tentang penggunaan information and communication technology (ICT), baru disediakan anggaran yang cukup untuk membeli perangkat keras (hardware) dan lunaknya (software) secara besar-besaran. Tetapi ada juga yang menganggap bahwa anggaran itu harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Kalau tidak sekarang, kapan lagi?



Sekolah Bestari di Malaysia

Rupanya Malaysia memilih pendekatan yang hati-hati. Negeri serumpun ini sangat percaya bahwa “who don’t make a plan, make a fail”. Dengan keyakinan itu, Malaysia telah menyiapkan konsep yang sangat matang dan komplit tentang apa yang disebut sebagai “Smart School” atau dikenal dengan sebutan “Sekolah Bestari”. Secaa konsisten Malaysia juga menyiapkan dana yang memadai untuk pelaksanaan konsep yang amat strategis ini. Bahkan, konsep ini merupakan bagian dari konsep yang lebih besar dari pemerintah Malaysia yang dikenal dengan “Multimedia Super Corridor” (MSC) sebagai megaproject yang amat terkenal di negeri jiran ini. Sekolah Bestari telah dirancang secara matang dengan mempersiapkan sekitar 90 sekolah menengah yang akan diberikan fasilitas ICT secara penuh pada tahun pertama, melatih semua guru dan tenaga administrasi yang akan ditempatkan di sekolah tersebut, menyusun buku pelajaran berbasis ICT untuk empat mata pelajaran teras, yakni (1) Matematika, (2) Sains, (1) Bahasa Inggris, dan (2) Bahasa Malaysia. Keempat mata pelajaran ini telah disiapkan compact disk – read only memory atau CD ROM-nya secara lengkap dan siap pakai. Bahkan, pola pikir ICT ini juga menjadi perhatian dalam rancangan besar-besaran program melek komputer ini oleh pemerintah Malaysia. Dalam konsep skenario rancangan Sekolah Bestari tersebut telah digambarkan kinerja seorang guru (Suparlan: 2006: 104) sebagai ilustrasi sebagai berikut:

Namaku Johan, dan aku mengajar di satu Sekolah Bestari. Pada hari ini, sebagaimana biasa, aku telah menggunakan kartu pintarku untuk mencatat kehadiranku ketika aku masuk sekolah. Ketika bel berbunyi, aku mengecek kehadiran para siswaku dari komputer yang ada di Ruang Guru. Semua siswaku hadir, jadi aku tidak perlu menelepon atau e-mail orangtua untuk menanyakan tentang anak-anaknya.

Pada pagi hari itu, aku pergi ke Ruang Sumber untuk Guru untuk melihat perkembangan tugas-tugas para siswa minggu ini. Siswaku telah membuat saran-saran untuk tugas dan pekerjaan yang harus mereka kerjakan pada minggu berikutnya. Aku telah memberikan persetujuan terhadap sebagian terbesar tugas-tugas itu, dan aku tambahkan beberapa saran untuk beberapa bagian. Seorang rekan guru menyatakan kepada aku bahwa beberapa siswa saya mungkin menghabiskan terlalu banyak waktu untuk proyek sains mereka, dan tidak cukup waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas yang lainnya. Aku telah mengatakan kepada siswa laki-laki untuk peduli terhadap tugas-tugas itu, dan mereka berjanji akan menghabiskan waktu tambahan untuk menyelesaikan tugas-tugas lainnya ketika mereka harus menyelesaikan proyek sains mereka.

Dalam ilustrasi tersebut dikenal beberapa terminologi yang tidak biasa digunakan dalam model penyelenggaraan lama, seperti kartu pintar, e-mail, dan proyek sains. Beberapa terminilogi itu belum dikenal sebelumnya. Yang dikenal paling-paling adalah penjaga sekolah, buku penghubung, dan pekerjaan rumah. Dalam pembelajaran berbasis teknologi informasi, dapat dipastikan bahwa semua pendidik, peserta didik, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan lainnya harus melek komputer, minimal pengenalan awal tentang komputer. Untuk merancang program Sekolah Bestari, Malaysia telah membentuk satu task force atau satuan tugas untuk merancang konsep, menyiapkan rencana jangka panjang tentang langkah-langkah pelaksanaan konsep tersebut, tetap menyediakan anggarannya meski ketika itu Malaysia juga dilanda krisis moneter. Hasilnya, sekolah uji coba telah berkembang cukup pesat, dan sekolah-sekolah lainnya juga melaksanakannya. Bahkan kini Malaysia mulai memberlakukan konsep satu pelajar satu laptop.

Kecakapan ICT (Information and Communication Technology Skills)

Menginjak abad milenium ketiga ini, banyak kita yang merasa terperangah menghadapi perkembangan ICT yang demikian pesat. Betapa tidak! Setiap orang, siapa pun dia, kini telah menggenggam telepon seluler yang kemampuannya cukup membuat kita tekagum-kagum. Sampai-sampai kantor pos kita merasa kehilangan bisnis inti(core bussiness) yang sebelumnya sempat menjadi andalah. Kita juga terperangah ketika alat yang besarnya benar-benar hanya segenggam tangan itu dapat mengirimkan SMS dengan begitu cepat, dapat merekam video yang bahkan dapat dihubungkan melalui komputer, memiliki sistem alarm, ada penunjuk waktu (jam), dan banyak aplikasi lain yang sebelumnya tidak kita bayangkan. Demikian juga dengan dunia perkomputeran. Dari komputer hitam putih yang kita miliki pada awal tahun 80 – 90-an, kini telah lahir generasi baru komputer lengkap dengan perangkat multimedia yang sangat canggih. Kemampuan untuk menyimpan data dan informasi, serta kecepatan merekam dan menyampaikan informasi, merupakan satu kelebihan perangkat keras ini yang sebelumnya tidak terbayangkan. Bahkan, kini hard disk pun dapat kita bawa kemana kita pergi. Flash disk atau USB dengan kapasitas bukan hanya megabite, tetapi gegabite. Bahkan kadang lebih besar dari hard disk yang ada di dalam hard disk komputer pribadi (personal computer atau PC) yang ada di kantor kita. Komputer pribadi yang ada di kantor dan rumah kita pun kini telah bergeser menuju laptop yang nyaris hanya memiliki berat di bawah dua kilogram kini banyak ditenteng para dosen, pendidik, bahkan kini juga para mahasiswa dan pelajar. Di Malaysia kini memiliki program satu siswa satu laptop. Program itu sesungguhnya telah dimulai oleh Tukul Arwana dalam acara ”Empat Mata” yang demikian paforit itu. Tukul telah memperoleh harga jual yang tinggi dari kejujuran, kesederhaan, spontanitas, keluguan, dan kecerdasannya. Sampai-sampai para anggota DPR pun tidak ingin kalah dengan pelawak-entertainer itu.

Dalam bukunya bertajuk Effective Teaching, Evidence and Practice, Daniel Muijs dan David Reynolds menjelaskan beberapa hal tentang kecakapan ICT. Bagaimana ICT dapat membantu siswa belajar?

Pertama, presenting information. ICT memiliki kemampuan yang sangat luar biasa untuk menyampaikan informasi. Ensiklopedia yang jumlahnya beberapa jilid pun dapat disimpan di hard disk. Bahkan kini telah lahir google0earth yang dapat menunjukkan kepada kita seluruh kawasan di muka bumi kita ini dari hasil foto udara yang amat mengesankan. Dengan membuka www.google.com, data dan informasi akan dengan mudah kita peroleh. Mau membuat grafik dan tabel? Itu sangatlah mudah. Komputer akan dengan senang hati membantu peserta didik untuk membuatkan grafik dan tabel secara otomatis, dengan hanya memasukkan data sesuai dengan yang kita inginkan.

Kedua, quick and automatic completion of routine tasks. Tugas-tugas rutin kita dapat diselesaikan dengan menggunakan bantuan komputer dengan cepat dan otomatis. Mau membuat grafik, membuat paparan yang beranimasi, dan sebainya, dengan mudah dapat dilakukan dengan bantuan komputer.

Ketiga, assessing and handling information. Dengan komputer yang dihubungkan dengan intenet, kita dapat dengan mudah memperoleh dan mengirimkan informasi dengan mudah dan cepat. Melalui jaringan internet, kita dapat memiliki website yang menjangkau ujung dunia mana pun. Jangan heran, anak-anak kita dapat dengan mudah melakukan cheating atau ngobrol dengan temannya yang berada entah di belahan dunia mana.

Masih banyak lagi manfaat yang dapat kita ambil dari penggunaan ICT dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, kemampuan dalam bidang teknologi informasi haruslah dikuasai sebaik mungkin oleh generasi muda kita melalui pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.

Bagaimana Dengan Indonesia?

Rupanya Indonesia masih kebingunan untuk memilih paradigma mana yang paling pas dalam menyelesaikan masalah. Program dulu baru anggarannya, atau anggarannya dulu baru programnya. Kebingunan ini mungkin karena trauma lama, yakni adanya program yang bagus ternyata tidak didukung oleh adanya anggaran yang tersedia. Atau trauma lama tentang ketersediaan anggaran untuk suatu program ternyata dilatarbelakangi oleh kepentingan dari pihak-pihak nonkependidikan yang memiliki motif-motif untuk mencari keuntungan. Contoh tentang hal ini terlalu banyak untuk disebutkan satu persatu. Program pengadaan alat peraga, pengadaan buku pelajaran satu siswa satu buku, bahkan soal sepatu bagi siswa saja kemudian dengan mudahnya disediakan dananya. Tetapi, anggaran yang tersedia itu tenyata tidak dilengkapi dengan konsep dan perencanaan yang matang. Atau konsep yang ada itu dengan mudahnya tidak dilaksanakan secara konsekuen. Ketentuan judul buku pelajaran harus digunakan di sekolah minimal selama lima tahun pelajaran, sebagai contoh, dengan mudahnya dipungkiri oleh sekolah, karena berbagai alasan seperti adanya perubahan kurikulum. Di Malaysia, penggunaan buku pelajaran menggunakan konsep sepuluh tahunan. Buku pelajaran yang digunakan di sekolah Malaysia digunakan selama sepuluh tahun. Buku pelajaran baru dapat diganti atau direvisi setelah melalui mekanisme sepuluh tahunan itu.

Kembali ke upaya membangun masyarakat melek komputer melalui pendidikan, memang memerlukan anggaran yang amat besar. Tetapi, untuk melaksanakan program penggunaan ICT tersebut, apa yang harus dilakukan pemerintah adalah menyusun naskah akedemis atau pun semacam blue book yang akan digunakan sebagai acuan atau pedoman untuk pelaksanaan program tersebut. Katakanlah bahwa anggaran untuk pelaksanaan program ICT tersebut memang sudah disiapkan sepenuhnya oleh pemerintah. Beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam naskah akademis itu antara lain adalah sebagai beriktut: (1) sudahkah kita memiliki data yang akurat tentang kondisi dan penggunaan ICT di sekolah-sekolah di Indonesia; (2) kalau sudah, apakah anggaran yang akan disediakan tersebut akan dapat digunakan untuk kegiatan apa saja, pengadaan perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), atau persiapan perangkat otaknya (brainware), misanya untuk pelatihan gurunya; (3) sesuai dengan ketersediaan anggaran tersebut, berapa sekolah, sekolah mana saja yang akan dipersiapkan untuk menjadi uji coba penggunaan ICT, (4) bagaimana desain pembelajaran berbasis komputer yang akan diterapkan; (5) mata pelajaran apa saja yang akan disiapkan dalam bentuk CD ROM; (6) berapa banyak CD ROM buku pelajaran yang harus disiapkan untuk proses pembelajaran berbasis komputer; dan masih banyak pertanyaan lain yang harus dijawab dalam naskah akademis tersebut.

Langkah pertama yang maha penting untuk dapat melaksanakan program melek komputer ini adalah perlunya data yang akurat tentang kondisi dan masalah penggunaan ICT di sekolah. Bukankah perencanaan tanpa data akurat ibarat mimpi di siang hari? Data di Indonesia sering dikenal dengan data karet. Data itu akan membesar dan mengecil sesuai dengan latar belakang kepentingan bagi menyampaikan data.

Read More…

Jumat, 09 Januari 2009

HARUN YAHYA

Penulis yang memakai nama pena HARUN YAHYA ini lahir di Ankara, tahun 1956. Ia belajar seni di Universitas Mimar Sinan, Istanbul, dan belajar filsafat di Universitas Istanbul. Sejak tahun 1980an, penulis telah mempublikasikan banyak buku tentang politik, keimanan, dan sains. Harun Yahya dikenal sebagai seorang penulis yang telah menelurkan karya-karya penting yang menyingkap tipuan para evolusionis, kecacatan klaim mereka dan hubungan gelap antara Darwinisme dengan ideologi-ideologi berdarah.



Nama penanya diambil dari nama Harun dan Yahya untuk mengingat dua nabi mulia yang berjuang melawan kekafiran. Label nabi di cover buku-bukunya memiliki arti simbolis yang berkaitan dengan isinya. Label ini mempresentasikan Al-Qur'an, kitab nabi kita dan kalimat Allah yang terakhir. Di bawah tuntunan Al-Qur'an dan sunnah, penulis menjadikan buku ini menjadi tujuan utama untuk membantah ajaran fundamental ideologi-ideologi ateis dan untuk melemparkan kata-kata terakhir guna membungkam bantahan terhadap agama. Nabi terakhir yang mencapai kebijaksanaan yang utama dan kesempurnaan akhlak, digunakan sebagai tanda perhatian penulis akan hal ini.
Semua karya Harun Yahya berkisar pada satu tujuan: untuk menyampaikan pesan Al-Qur'an kepada manusia, sekaligus mendorong mereka memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, seperti keberadaan Tuhan, Kemahatunggalan-Nya dan Hari Akhir, dan untuk mengingatkan mereka akan hal-hal penting dalam hidup ini.


Buku-buku Harun Yahya dinikmati di berbagai negara, seperti India, Amerika, Inggris, Indonesia, Polandia, Bosnia, Spanyol dan Brasil. Beberapa bukunya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa antara lain Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, Portugis, Urdu, Arab, Albania, Rusia, Serbo-Kroasia (Bosnia), Polandia, Malaysia, Turki-Uygur, dan Indonesia.

Disambut baik di seluruh dunia, karya-karya tersebut menolong banyak orang dalam menemukan keyakinan mereka akan Tuhan dan sebagaian yang lainnya mendapatkan wawasan yang medalam tentang keimanan mereka. Kearifan, ketulusan, dan gaya penulisan yang mudah dipahami menjadikan buku-buku ini memiliki sentuhan lain yang langsung menohok siapa pun yang membaca atau mempelajarinya. Terbebas dari keraguan, karya-karya Harun Yahya memiliki karakter dengan efektifitasnya yang istimewa, hasil yang pasti, dan dalil yang tak terbantahkan. Tidak mungkin orang yang pernah membaca dan serius memikirkan situs ini masih membela filsafat Materialisme, Ateisme, dan ideologi atau filosifi sesat lainnya. Bahkan jika mereka tetap membelanya, itu hanya sentimen mereka, karena situs ini telah membuktikan kesalahan ideologi tersebut dari akarnya. Semua gerakan kontemporer dari keingkaran tersebut, secara ideologis kini telah dikalahkan berkat koleksi buku Harun Yahya.
Tak disangsikan lagi bahwa keistimewaan ini hasil dari kebijaksanaan dan kejelasan yang dianugerahkan oleh Allah. Penulis tentu saja tidak merasa bangga diri, ia berniat semata untuk membantu pencarian seseorang akan jalan yang benar menuju Tuhan. Bahkan, tak ada materi yang dimanfaatkan dalam publikasi karya-karya tersebut. Baik bagi penulis maupun dalam proses penerbitan. Mereka sebenarnya melakukan itu semua untuk mencapai keridhaan Allah.

Melihat kenyataan ini, mereka yang mendorong orang lain untuk membaca situs ini, yang membuka mata hati dan menuntun mereka untuk menjadi hamba Allah yang lebih patuh, menyumbangkan jasa yang tak ternilai.

Sebaliknya, adalah penyia-nyiaan waktu dan energi mempropagandakan situs-situs (buku-buku) lain yang membingungkan orang lain dan membawa manusia kepada kekacauan ideologi. Situs-situs (buku-buku) demikian jelas tidak memiliki pengaruh yang kuat dan tepat untuk menghilangkan kegalauan hati manusia, sebagaimana telah dibuktikan pengalaman yang silam. Buku-buku yang dibuat hanya menekankan kemampuan sang penulis dan bukan untuk tujuan mulia, yaitu menyelamatkan manusia dari hilangnya keimanan tidak mungkin dapat memberi pengaruh yang besar. Mereka yang meragukan hal ini dapat melihat satu-satunya tujuan buku-buku Harun Yahya, yaitu untuk menghadapi kekafiran dan untuk menyebarkan nilai moral Al-Qur'an. Keberhasilan, pengaruh, dan kesungguhan yang telah dicapai melalui penerbitan karya-karya Harun Yahya itu termanifestasikan dalam keyakinan para pembaca setelah membaca situs ini.

Satu hal yang harus diingat: alasan utama berlanjutnya kejahatan, konflik, dan semua cobaan berat yang dialami kebanyakan orang adalah meratanya ideologi kekufuran. Hal-hal tersebut hanya dapat berakhir dengan kalahnya ideologi kekufuran dan dengan memastikan bahwa setiap orang mengetahui keajaiban ciptaan dan akhlak Al-Qur'an, hingga manusia dapat hidup dengannya. Dengan menyadari kenyataan dunia saat ini, yang menjatuhkan manusia ke dalam perangkap kejahatan, kekerasan, korupsi, dan konflik, jelaslah bahwa tugas ini harus dilaksanakan dengan lebih cepat dan efektif. Jika tidak mungkin akan terlambat.

Tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa koleksi buku-buku Harun Yahya telah mengemban tugas utama ini. Dengan seizin Allah, buku-buku (situs) ini akan menjadi alat untuk mendapatkan kedamaian, keadilan, dan kebahagiaan manusia abad 21 ini yang telah dijanjikan dalam Al-Qur'an.
Read More…

Jalan yang Benar Menuju Perdamaian

Pertanyaan tentang bagaimana perdamaian, yang adil dan berkeadilan, bisa dibawa ke Timur tengah akan dijawab dengan meninjau sejarah.

Seperti dibahas sebelumnya, satu-satunya pemerintahan yang pernah memungkinkan Yahudi, Kristen, dan Islam hidup bersama dalam damai dan keamanan di Palestina adalah pemerintahan Islam: yakni Kesultanan Ottoman. Alasannya adalah karena pandangan-pandangan Islam tidak mengandalkan ideologi brutal apa pun seperti Zionisme atau pun yang menyebabkan Perang Salib. Pengikut Islam sejati tidak akan melihat dunia melalui cermin buram Darwinisme Sosial, seperti yang dilakukan Zionis. Islam juga mengajarkan orang beriman bahwa segala amarah yang mereka luapkan pada suatu masyarakat tidak boleh menyeret mereka pada ketidakadilan. Bahkan, Islam menganggap Yahudi dan Kristen sebagai Ahli Kitab dan menghormati hak mereka untuk hidup, beribadah, dan memiliki harta.




Karena alasan ini, memperkuat Timur Tengah sekaligus masyarakat Islam dunia akan membawa perdamaian dan keamanan tidak hanya pada dunia Islam melainkan juga pada negara dan orang lain dari keimanan berbeda. Sepanjang sejarah, pemerintahan Muslim yang adil dan benar telah mendapat penerimaan orang Non-Muslim, dan begitu pula yang akan terjadi di masa depan. Muslimin tidak pernah mengabaikan Yerusalem atau menerima kota suci ini sebagai “Ibu Kota Abadi Israel.” Oleh karena itu, pemecahan yang paling masuk akal adalah Yerusalem Timur yang diperintah oleh sebuah badan pemerintahan Palestina, tapi di bawah arahan sebuah badan di mana anggota ketiga agama diwakili dan sejajar kedudukannya, sebagai kota merdeka dan bebas senjata. Tentu saja, pemerintah ini harus hidup dan menjalankan etika agama mereka masing-masing. Dalam Yerusalem seperti ini, orang-orang Kristen dan Yahudi akan merdeka, demikian pula orang-orang Islam. Rencana ini memegang kunci ke arah keselamatan sejati bagi Palestina dan Timur Tengah.

Lingkungan damai, adil, dan bertenggang rasa yang dirasakan selama abad pemerintahan Ottoman adalah contoh terbaik tentang hal ini. Semenjak akhir pemerintahan Ottoman di daerah ini, sekalipun telah banyak pemerintahan dan kebijakan yang diupayakan, Timur Tengah tidak pernah mengalami lagi kedamaian dan stabilitas.


Read More…

MUSLIHAT PERDAMAIAN ISRAEL

Kesepakatan Oslo yang ditandatangani pada tahun 1993 memulai halaman baru dalam sejarah Timur Tengah. Pemimpin PLO Yasser Arafat dan Perdana Menteri Israel Yitzak Rabin, di hadapan Presiden AS Bill Clinton, berfoto di depan para wartawan, berjabat tangan, dan membawa perundingan Israel-Palestina pada hasil kesepakatan yang sebenarnya. Dengan menandatangani Kesepakatan Oslo, kedua belah pihak saling mengakui untuk pertama kalinya dalam sejarah dan membuat kesepakatan dua negara untuk pertama kalinya.

Setelah menandatangani kesepakatan, gagasan bahwa perdamaian akhirnya akan dimungkinkan mulai merambah seluruh dunia. Telah diterima luas bahwa pertikaian Arab-Israel bisa dipecahkan secara permanen, dan bahwa perdamaian akan membawa kemakmuran dan kebahagiaan ke Timur Tengah. Shimon Peres, orang nomor dua di Israel, menulis sebuah buku berjudul The New Middle East, yang menggambarkan pemandangan membahagiaan ini. Buku itu segera terjual laris. Penampilan Israel sebagai “pembawa perdamaian” kelihatannya meyakinkan hampir setiap orang.




Akan tetapi buku kami The New Masonic Order, yang pertama kali diterbitkan pada Februari 1996 menggambarkan betapa penampilan ini tidak mencerminkan kenyataan, betapa perdamaian Israel hanyalah “perdamaian basa-basi.” Kami menerangkannya bahwa dengan berunding bersama PLO, Israel sebenarnya ingin memperburuk pertikaian antara mereka dengan Hamas, bahwa Israel sebenarnya tidak punya niat menarik diri dari Daerah Pendudukan, dan bahwa mereka hanya menjadikan perdamaian sebagai “permainan taktik.’ (Lihat Harun Yahya, The New Masonic Order, Istambul, 1996, hal. 508-520.)


Enam tahun setelah penerbitan buku ini terbukti bahwa pandangan ini benar. Seluruh dunia saat ini memahami bahwa “Israel damai” di pertengahan 1990an tidak masuk akal, dan bahwa Israel melanjutkan politik pendudukannya. Proses perdamaian basa-basi yang dipelopori Israel untuk mengakhiri Intifadah hanya mengarah pada bentuk lain ketika Israel meneruskan kebijakan penindasan dan penyerangannya. Setelah semua rancangan damai palsu ini, pemilihan Ariel Sharon, “Penjagal dari Libanon,” sebagai perdana menteri menunjukkan bahwa Zionis telah memutuskan meneruskan kebijakan pendudukan mereka dan kekejaman, bukan perdamaian. Kenyataan ini adalah bukti yang cukup jelas bahwa tawaran perdamaian Israel tidaklah murni.

Tak disangkal lagi, digantinya perdamian dengan pertikaian baru berarti memicu lagi kejadian yang mengerikan. Apa yang kita harapkan, tentu saja terjaminnya perdamaian dan keamanan di Timur Tengah. Namun harus menjadi perdamaian yang adil. Israel ingin memaksakan perdamaian tak adil yang tidak diikuti penarikan diri dari Wilayah Pendudukan dan memaksa orang Islam menerima status quo. Alasan mereka melakukan ini adalah ideologi Zionis, orang Israel belum lagi merdeka dari ideologi ini.

Syarat yang diperlukan untuk perdamaian adil di Palestina meliputi hal berikut: Israel harus menarik diri dari Daerah Pendudukan, para pengungsi harus diizinkan kembali ke rumah mereka, orang-orang Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel harus diadili dengan proses yang layak, dan kedudukan akhir Yerusalem harus ditetapkan. Israel terus memaksakan pandangannya tentang semua permasalahan dan menolak mencari jalan penyelesaian. Alasannya adalah ideologi Zionis.

Sepanjang Israel tidak mau meninggalkan Zionisme, mereka akan tetap tidak bisa menghormati hak azazi manusia dan keadilan. Karena itu, semua rencananya untuk rakyat Palestina tidak akan berkeadilan. Bagi Zionis Israel, “perdamaian” berarti tidak lebih dari “gencatan senjata demi strategi” dalam peperangan yang lebih besar. Ketika kita kembali ke belakang dan melihat masa yang dimulai dengan Kesepakatan Damai 1993, kita akan melihat bahwa fakta ini benar.

Asal Mula Perdamaian Israel-PLO

Sejarah panjang pertikaian antara Israel dan Palestina diketahui setiap orang. Semenjak awal abad kedua puluh, Timur Tengah telah menjadi ajang bentrokan antara orang Islam pribumi dengan Arab Kristen dan Yahudi, yang sebagian besarnya tidak dilahirkan di Palestina. Setelah didirikannya Israel pada 1948, bentrokan ini menjadi perang terbuka. Pada 1967, ada empat perang utama dan satu bentuk perang antara Israel dan tetangga Arabnya. Setelah 1967, organisasi yang bekerja untuk membebaskan Palestina juga membuat kehadiran mereka terasa.

Perlawanan Palestina menguat ketika Israel menduduki semua tanah Palestina pada 1967. Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), sebuah gerakan perlawanan yang terbentuk dengan penyatuan beberapa kelompok, meningkatkan kegiatannya khususnya dalam 1970an. Hingga 1980an, mereka memainkan peran utama dalam perjuangan rakyat Palestina. Lahirnya gerakan Islam selama 1980an memiliki dampak meluas atas organisasi ini, yang telah bertahan terutama melalui dukungan golongan kiri, pemerintah Arab sosialis, dan Uni Soviet. Kelompok Islam, khususnya yang mengorganisir dirinya di Jalur Gaza dan Tepi Barat, menjadi bentuk baku Intifadah pada 1987 dan memimpin pemberontakan ini. Pada 1990an, kekuatan mereka bertentangan dengan PLO. Tak diragukan lagi, perkembangan ini membuat Israel mengubah taktik, untuk memusatkan perhatian pada gerakan Islam baru yang bersatu dibawah ciri yang sama ini, dan bukan dengan PLO, yang telah kehilangan dukungan penting dari blok Soviet yang sekarang telah beku, yang menjadi kekuatan terbesarnya.

Israel lebih memilih membuat perubahan strategi, bukan menghadapi dua ancaman ini sekaligus. Hal terpintar yang dilakukan adalah mengakui PLO sebagai perwakilan resmi kepentingan Palestina dan lalu memainkan kartu PLO melawan kekuatan Palestina lainnya. Tentu ini berarti bahwa Israel harus sementara waktu menghentikan kebijakan penyerangan yang telah berlangsung bertahun-tahun, jika itu penting untuk taktik ini. Inilah dasar bagi Israel dan PLO memulai proses perdamaian selama awal 1990an.

Teori "Perdamaian untuk Perang"

Mundur untuk membuat gerakan lebih kuat lagi di belakang hari adalah salah satu strategi politik yang lebih dipertajam lagi. Israel mengetahui bagaimana menerapkan “strategi penarikan diri” ini ketika diperlukan. Salah satu contoh terjadi 3 tahun setelah mereka menandatangani Kesepakatan Camp David dengan Mesir. Satuan-satuan tentara Israel menyerang Libanon pada musim panas 1982, di bawah perintah penanda tangan Camp David Menachem Begin, yang mengejutkan orang-orang yang yakin pada dongeng proses perdamaian Timur Tengah. Pembantaian yang terjadi di kamp pengungsian Sabra dan Shatilla sekali lagi menunjukkan apa yang sesungguhnya dimaksud Israel dengan perdamaian. Kejadian-kejadian ini membuktikan bahwa Israel tidak menandatangani Kesepakatan Camp David karena menginginkan perdamaian di Timur Tengah, melainkan karena hanya ingin menghilangkan satu hambatan (Mesir) sehingga bisa berkonsentrasi pada tujuan yang lebih penting.

Jadi proses perdamaian 1992 hanyalah “strategi menarik diri” lainnya, sebuah taktik perang post-modern yang direkayasa seperti bunglon. Taktik ini tidak dapat menghindar dari pandangan para ahli dan cendekiawan yang mengikuti proses perdamaian itu lebih dekat. Edward Said, salah satu ahli ini, memperingatkan PLO sebelum memulai pembicaraan damai bahwa mereka telah lupa bahwa mereka berhadapan dengan “negara orang Talmud.” (Orang Talmud terikat keras dengan Talmud, Kitab Suci Yahudi.) Menurut Said, orang-orang Israel mempersiapkan jebakan di belakang setiap kata dan setiap tanda koma dari pembicaraan damai ini.120

Dengan tawaran perdamaian pertama mereka, yang menjanjikan orang-orang Palestina dengan Jalur Gaza dan Tepi Barat, pemerintah Israel berencana untuk meredam perlawanan rakyat Palestina. Rencana ini sesungguhnya adalah jebakan. Demikian pula, wilayah yang berada di bawah pengendalian Palestina berdasarkan Kesepakatan Oslo berjumlah sekitar 22% dari seluruh tanah Palestina. Bahkan, dengan menempatkan Jalur Gaza, daerah kekuatan pergerakan Islam, di bawah kendali Palestina, Israel telah membebaskan dirinya dari perlunya menghadapi kelompok perlawanan ini. Dengan kesepakatan ini, kekuatan keamanan Palestina harus menghadapi langsung kelompok perlawanan ini. Israel tidak rugi apa pun dalam tawar menawar ini, sebaliknya, terbukti menjadi tawar menawar yang paling menguntungkan. Dan memang, kesepakatan yang mengikuti Oslo membantu Israel “membersihkan” Yerusalem dari orang-orang Kristen dan Muslim.

Pastilah bukan kebetulan adanya pembangunan pemukiman di dekat Yerusalem yang dilakukan segera setelah penandatanganan Kesepakatan Oslo. Pembangunan ini hanyalah sebuah hasil dari strategi yang telah direncanakan dengan lihai, yang tiap tahapnya dengan seksama dipikirkan sebelumnya.

KEDOK PERUNDINGAN: LAPORAN MITCHELL

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik puncaknya dengan meledaknya Intifadah al-Aqsa, yang mengarahkan kalangan internasional untuk berusaha memulai perdamaian baru. Laporan Mitcell, salah satu laporan yang menarik banyak perhatian dan dipersiapkan oleh sebuah delegasi yang dipimpin oleh bekas Senator George Mitchell, memeriksa persoalan di sumbernya dan memberi usulannya. Tujuan utamanya adalah menentukan sebab mendasar ketegangan Israel-Palestina dan memberi usulan bagaimana mencegah pertikaian seperti ini di masa mendatang. Meskipun laporan ini dipersiapkan tidak kurang dari 8 bulan, laporan ini tidak memberi hasil yang diinginkan. Seperti halnya banyak laporan lain dalam upaya perdamaian Timur tengah, Laporan Mitcell adalah sebuah pemecahan sementara yang direkayasa, bukan upaya murni untuk mengekalkan perdamaian.

Tentu Laporan Mitchell berisi materi yang dimaksudkan untuk memuaskan ke dua belah pihak. Namun, karena kekurangan materi mendasar, laporan ini tidak mampu mengemukakan masalah sesungguhnya dan kekurangan sanksi dan saran yang murni. Sewaktu menyatakan bahwa Israel telah menggunakan kekerasan berlebihan, laporan ini juga menuduh Yasser Arafat melakukan sabotase terhadap Kesepakatan Oslo dan tak mampu menemukan penjahat dan korban sebenarnya. Para anggota komite, yang mendesak agar ini tidak dijadikan delik hukum, tidak menyebutkan berlanjutnya teror Israel atau pembantaian yang terjadi belakangan. Ketika laporan itu ditelaah secara rinci, jelaslah bahwa ketika anggota komite berkata bahwa meraka “tidak akan menghukum siapa pun,” apa yang mereka maksudkan adalah bahwa mereka “tidak akan mengenakan keputusan keras apa pun atas Israel.” Ahli Timur Tengah Daniel Pipes menerangkan sikap (seolah-olah) netral dalam laporan ini dengan mengatakan: “Seandainya komite Mitchell diminta menilai pecahnya Perang Dunia II, mungkin ia akan menyesali Hitler melintasi perbatasan Polandia tapi mengimbanginya pula dengan desas desus tentang pernyataan “menghasut” dari Warsawa (Polandia)."1

Sebelum laporan ini diterbitkan pun, komentar pejabat Israel senior yang diterbitkan dalam surat kabar Israel Ha’aretz memberi isyarat penting tentang apakah semua itu akan menghasilkan perdamaian berkeadilan. Pejabat ini menyebut bahwa laporan ini mungkin akan menuduh orang Palestina melakukan sabotase atas perundingan damai dan orang Israel karena melakukan kekerasan berlebihan dan terus membuka wilayah pemukiman baru. Namun, yang lebih penting lagi adalah pernyataannya bahwa “[Israel] akan dapat menghadapi keluhan-keluhan pada umumnya, seperti kritik tentang pemukiman atau penggunaan kekuatan… tapi akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi saran-saran pelaksanaan yang dibuat oleh laporan itu. Termasuk di dalamnya seruan kepada para pengamat internasional dan himbauan supaya ada perwakilan internasional di Hebron."2 Pejabat Israel lainnya menimbulkan kegaduhan dengan komentar berikut:

Kami mendesak agar komisi berpegang pada wewenangnya saja… ini berarti memperjelas fakta dan tidak melampaui batas itu. Kami tidak akan membiarkan laporan ini menjadi pijakan agar pertikaian ini dijadikan masalah internasional dengan menempatkan pengamat internasional.3

Ketika laporan ini diterbitkan, laporan itu tidak berisi “arahan khusus,” seperti yang diinginkan Israel. Dengan hanya memuat kritik umum, laporan ini sepenuhnya sesuai dengan kemauan Israel. Memang, meskipun telah lama berlalu semenjak terbitan laporan itu, fakta bahwa tank-tank Israel terus merangsek ke wilayah Palestina menunjukkan betapa “berhasilnya” laporan ini membawa perdamaian ke wilayah ini.

Satu-satunya jalan untuk memastikan adanya perdamaian yang kekal adalah menunjukkan sikap yang benar-benar tidak berat sebelah dan melindungi hak orang-orang tertindas, dalam keadaan apa pun. Dalam hal Palestina, sangat jelas kelompok mana yang dizalimi dan perlu perlindungan hak. Sebelum hal-hal lainnya, Israel harus menarik diri dari Daerah Pendudukan dan mengembalikan pada rakyat Palestina seluruh hak-hak yang telah mereka ingkari. Persoalan ini telah sering diagendakan oleh orang Israel yang menginginkan perdamaian. Inilah pernyataan pergerakan "Perdamaian Saat Ini Juga":

Saat ini kita menemukan diri kita di tengah-tengah sebuah perang kemerdekaan Palestina. Perang yang kejam dan tak perlu ini dimulai karena pendudukan paksa Israel pada tahun 1967 atas tanah Palestina, penindasan dua juta orang melalui pendudukan ini, dan keinginan Israel untuk melanjutkan pendudukan ini. Hanya ada satu akhir untuk perang ini: penarikan diri Israel dari wilayah-wilayah pendudukan dan berdirinya Negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Akhir dari pendudukan dan serangan ini dapat mengawal sebuah zaman perdamaian di daerah ini."4

Sepanjang syarat ini tidak terpenuhi, seluruh perundingan damai dan saran-saran kompromi akan gagal mencapai tujuannya. Sepanjang Israel tidak menghentikan kekerasan, upaya-upaya diplomasi tidak akan berarti apa-apa. Akhirnya, di Palestina suara meriam, tank, dan rudal akan lebih keras dari suara-suara diplomasi.

Ariel Sharon Bersiap untuk Perang

Sebuah laporan berita yang diperoleh dari majalah strategi pertahanan Jane’s Defense Weekly di paruh akhir Juli 2001 menunjukkan sekali lagi cara Sharon merencanakan membawa perdamaian ke wilayah Palestina. Menurut laporan ini, militer Israel tengah mempersiapkan rencana perang yang akan melibatkan 30.000 tentara, pesawat tempur F-15 dan F-16, pengeboman bertubi-tubi, dan kendaraan perang berat. Tujuan operasi ini adalah menghapus kemungkinan kekuatan-kekuatan Palestina membangun diri lagi.

Bagian paling menarik dari rencana ini adalah bagaimana semua ini dihidupkan, seperti dilaporkan oleh CBS News. Pemerintah Israel telah menetapkan rencana yang mengagungkan ideologi dan masa lalunya: Perang yang akan direncanakan dengan bom bunuh diri terhadap wilayah dengan penduduk Yahudi terpadat. Rencana seperti ini menarik karena memperlihatkan bersedianya Israel mengabaikan kehidupan rakyatnya sendiri, jika perlu, untuk mencapai tujuan Zionisnya. Informasi ini dilaporkan oleh CBS:

Laporan ini mengatakan rencana penyerangan Israel akan dilancarkan setelah seragan bom bunuh diri lainnya yang menyebabkan sejumlah besar kematian, seperti yang terjadi di kelab malam Tel Aviv akhir bulan yang lalu.5

Dengan laporan ini, dan naiknya Sharon ke pucuk kekuasaan, diharapkan agar ketegangan wilayah akan meningkat pesat, dan Israel dapat menarik diri sepenuhnya dari proses perdamaian dan meningkatkan penggunaan kekuatannya. Dengan memilih “Penjagal Libanon” sebagai pemimpin mereka, para Zionis memberi tanda awal bahwa perang seperti itu akan datang. Pihak Palestina telah meramalkan keadaan seperti ini. Dengan adanya Sharon dalam kekuasaan, kemungkinan bahwa perang hidup mati akan pecah adalah kemungkinan yang tidak dapat diabaikan.

Meski perang ini mungkin adalah operasi yang hanya ditujukan pada PLO, perang itu bisa menjadi perang wilayah, menyeret negara-negara tetangganya. Tentu saja, dunia tidak akan melihat pewujudan sesungguhnya perang ini, melainkan, seperti yang selalu terjadi, hanya sisi yang mereka inginkan untuk dilihat dunia. Sebuah artikel dalam The Independent berbunyi:

Saya perkirakan ini adalah cerita usang yang sama. Orang-orang Israel hanya ingin perdamaian. Orang-orang Palestina yang amburadul, pembuat kekacauan, dan pembunuh, yang sepenuhnya harus disalahkan atas 95 kematian di pihaknya sendiri, hanya mengenal kekerasan. Itulah yang dikatakan juru bicara militer Israel tadi malam. Kekuatan, katanya, “hanyalah satu-satunya bahasa yang mereka pahami.” Yang akan datang mendekat pada pernyataan perang seperti yang bisa kalian dapatkan.6

1- Daniel Pipes, Mitchell Report Missed It, The Washington Times, 30 Mei 2001
2- Aluf Benn, Israel Braces for Mitchell Report, Ha'aretz, 24 April 2001
3- Aluf Benn, Israel Braces for Mitchell Report, Ha'aretz, 24 April 2001
4- Yeni Safak Turkish Daily, 25 Mei 2001
5- CBS, 12 Juli 2001
6- The Independent, 13 Oktober 2001
gambar

Seberapa Fair-kah Oslo?

Seperti telah dilaporkan sebelumnya, Kesepakatan Oslo 1993 disambut dengan semangat oleh media Barat dan beberapa kelompok yang menginginkan perdamaian di Timur Tengah. Akan tetapi, tahun-tahun setelahnya yang bergulir tidak memperkuat semangat mereka. Media Barat terus mengikuti pola Israel dalam masalah perdamaian, seperti yang mereka lakukan dalam banyak persoalan lain. Orang-orang Palestina dituduh tidak mendukung perdamaian, meskipun beberapa tuntutan mereka telah diberi, dan menggambarkan mereka sebagai dengan kejam menolak kesempatan yang ditawarkan oleh Israel kepada mereka untuk mencapai “negara sendiri."

Akan tetapi, kenyataannya adalah sebaliknya, karena Israel tidak menawarkan pada mereka apa yang pantas mereka dapatkan. Kenyataannya, Israel menyuap Palestina agar tidak menghalangi jalannya.

Pertama, dan terpenting, tanah yang disepakati Israel diberikan sebagai tanah Palestina yang jumlahnya kurang dari 22% dari wilayah Palestina sebenarnya, dikepung oleh tentara Israel, dan dipisahkan satu sama lain dengan jalan-jalan yang hanya dapat digunakan oleh orang-orang Yahudi. Perincian lain yang tak boleh dilupakan adalah bahwa tanah ini adalah tanah gurun yang tandus. Bahkan, perbatasan, udara, dan air tanah “negara merdeka Palestina” berada di bawah kendali Israel.

Sementara kalangan menganggap pembagian oleh Israel atas wilayah Palestina dalam tiga wilayah (yakni A, B, dan C) sebagai kesepakatan yang penting. Padahal, berdasarkan contoh ini, ketika satu jalan Yerusalem berada di bawah kendali polisi Palestina, maka jalan berikutnya akan dikendalikan oleh tentara Israel. Akibatnya, orang Israel bisa menyeberang ke jalan ini, sehingga membawa militer Israel ke wilayah Palestina, seperti yang mereka lakukan saat ini di Jalur Gaza dan Tepi Barat kapan pun mereka mau. Kita tidak bisa membicarakan negara Palestina yang berdaulat dengan keadaan seperti ini.

Usulan Israel untuk memberikan sebagian Yerusalem di bawah kendali Palestina tak berarti apa pun selain tipuan. Seperti banyak persoalan lainnya, Israel hanya tertarik memanipulasi orang-orang Palestina untuk keuntungannya sendiri. Robert Fisk menyebutkan kenyataan ini dalam salah satu artikelnya:

Dan Otoritas Palestina mengetahui semuanya dengan terlalu baik, apa arti “kendali” di Yerusalem. Ketika orang-orang Arafat mengumpulkan sampah, dengan mengerahkan polisi jalanan dan tetap mengatur rakyatnya sendiri, Israel terus memegang kedaulatan di seluruh Yerusalem.121

Selain ini, Kesepakatan Oslo tidak memberi orang Palestina, yang dipaksa terusir dari rumah dan tanahnya karena teror Israel pada 1948, hak untuk pulang. Mustahil memecahkan masalah Palestina tanpa mengizinkan para pengungsi kembali.

Kesimpulannya, “Israel yang Damai” yang tampak di kulitnya dan mengungkapkan kepalsuannya pada tahun 2000 jelas tidak mencerminkan kebenaran sesungguhnya. Sepanjang Israel memandang Yerusalem dan seluruh tanah Palestina sebagai hak miliknya, menganggap orang-orang Palestina sebagai “binatang berkaki dua,” dan melihat dunia dari kaca mata kabur Darwinisme Sosial, mereka tidak akan bisa membawa perdamaian ke Timur Tengah.



Read More…

Penyusunan Rancangan Pendayagunaan TIK Untuk Peningkatan Mutu Proses Pembelajaran dan Pengelolaan Sekolah

Penyusunan Rancangan Pendayagunaan TIK Untuk Peningkatan Mutu Proses Pembelajaran dan Pengelolaan Sekolah


Latar Belakang
Dalam rangka mewujudkan komitmen Departemen Pendidikan Nasional untuk meningkatkan partisipasi institusi sekolah dalam meningkatkan kualitas SDM khususnya sumber daya teknologi informasi Indonesia, Departemen Pendidikan Nasional perlu mengoptimalkan penggunaan TIK untuk mendukung proses belajar mengajar di sekolah. Perwujudan strategi tersebut berupa pengembangan konsep dan model sekolah yang berbasis TIK.




Konsep dan model sekolah yang berbasis TIK ini merupakan perwujutan bagi peningkatan mutu sekolah. Peningkatan mutu sekolah ini ditekankan pada pengembangan sarana, persiapan bahan pengajaran dan pelaksanaan kurikulum, pengembangan buku teks, peningkatan pelayanan penataran guru, peningkatan pembinaan guru, serta mengembangkan model pengembangan dan pelaksanaan manajemen SMU.

Pengelolaan sekolah untuk peningkatan mutu dan relevansi pendidikan di SMU menuju sekolah yang berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dapat dilaksanakan melalui penyelenggaraan pembelajaran yang bermutu, serta mendorong terwujudnya good governance dan akuntabilitas pengelolaan pendidikan berbasis TIK guna mewujudkan peningkatan efektifitas dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Upaya mewujudkan sekolah berbasis TIK ini perlu melibatkan peran serta masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan pendidikan dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya manusia baik untuk kepala sekolah, guru, karyawan, dan para siswanya agar memiliki kualitas dan kompetensi yang mampu berkompetisi di dunia nasional dan internasional.

Terdapat beragam pendapat dari para pakar sehubungan dengan pendefinisian sekolah yang berbasis TIK yang dapat ditemui pada beberapa literatur yang ada. Secara umum sekolah yang berbasis TIK dalam konsep ini dapat didefinisikan sebagai berikut :

“Sekolah yang berbasis TIK adalah model sekolah masa depan (school of the future) yang mengintegrasikan teknologi informasi sebagai “enabler” efektifitas, efisiensi dan kemenarikan pembelajaran”.

Pada umumnya dalam implementasi konsep sekolah yang berbasis TIK tersebut menekankan pemanfaatan teknologi informasi sebagai basis strategi menciptakan SDM yang berkualitas. Munculnya sekolah yang berbasis TIK ini merupakan dampak dari solusi dalam memanfaatkan dan mengembangkan TIK Nasional. Jadi dapat dikatakan bahwa sekolah ini bukan merupakan bentuk sekolah baru, melainkan hanya mengembangkan sekolah yang telah ada terutama dalam hal pemanfaatan TIK untuk pembelajaran. Pengembangan model sekolah yang berbasis TIK ini dilakukan di tiga sekolah yang dipilih untuk dijadikan referensi bagi sekolah lain dalam mengembangkan dan memanfaatkan TIK.

Read More…